Selasa, 03 Mei 2016

MENEROPONG PENDIDIKAN DI BIMA


MENEROPONG  MASALAH DAN  SOLUSI PENDIDIKAN ALTERNATIF DI BIMA
Oleh: Ismail Aljihadi
Menyambut hari pendidikan  nasional pada tanggal 2 mei 2016 tahun ini  merupakan moment terpenting dalam sejarah perkembangan dan kemajuan pendidikan d
 Indonesia di lihat dari berbagai latar belakang kontroversi dan inovasi pendidikan yang ada, Hardiknas diperingati antara lain untuk mengenang jasa Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara dan seluruh pejuang pendidikan yang patut kita kenang dan hargai. hal itu sesuai dengan amanat undang-undang RI no 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS bab II pasal 3 yang berbunyi: tujuan pendidikan nasional ialah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia-manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan impilikasi dari undang-undang tersebut bahwa pendidikan semata-mata untuk mencerdaskan anak bangsa yang bermoral pendidkan religius berkemajuan, berawal dari moment tersebut Pusmaja Mbojo-Yogyakarta melakukan disksusi ilmiah untuk membedah pendidikan nasional khsusunya di Bima-dompu dengan tema” Meneropong  Masalah Dan Solusi Pendidikan Alternatif Di Bima” dalam diskusi  ilmiah tersebut mengupas sekaligus mengagas pendidikan alternativ di Bima, menurut bapak Jainudi S.Pd bahwa permasalahan serius penurunan kualitas pendidikan di Bima disebabkan kurangnya potensi dan kualitas tenaga pengajar dalam menguasai konsep theory yang mumpuni, sehingga dalam aplikasi mengajar sangat terkendala dengan perkembangan dan perubahan pola pikir siswa sebagai obyek pengajaran. Disamping kurang kualitas pendidik yang handal dalam mencetak generasi sumber daya manusia/siswa yang cermat, cerdas dan loyalitas, namun para pengajar juga kurang memahami potensi, kondisi dan situasi siswa yang ada.
Mengambarkan secara umum kondisi pendidkan di Bima memang sangat-sangat memprihatinkan sebagaimana disampaikan oleh bapak Sahrul Al Walid bahwa pendidikan harus mengacu pada pola pikir para intelek serta tokoh-tokoh nasional yang menguasai metode, pola pendidikan alternativ pendidikan di Indonesia, menurut prof Nur cholis Majid “ memanusiakan manusia dari pemikiran yang jahilia” bahwa untuk membangun sumber daya manusia/siswa yang utuh, harus memadukan pendidikan moralitas nilai regius dengan pola pendidikan yang  berbasis modernisasi dari berbagai aspek kemajuan keilmuan  yang ada, sehingga dengan perpaduan tersebut akan menempuh nilai-nilai pendidikan yang mecerdaskan, mendewasan serta mengembangkan pola pikir siswa.
Menurut UNESCO pada tahun 1996 mencanangkan pilar-pilar penting dalam pendidikan, yakni bahwa pendidikan hendaknya mengembangkan kemampuan belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk melakukan sesuatu (learning to do), belajar menjadi seseorang (learning to be), dan belajar menjalani kehidupan bersama (learning to live together). Dalam konteks Indonesia, penerapan konsep pilar-pilar pendidikan ini bahwa system pendidikan Nasional berkewajiban untuk mempersiapkan seluruh warganya agar mampu berperan aktif dalam semua sector kehidupan guna mewujudkan khidupan yang cerdas, aktif, kreatif, dan mengutamakan persatuan dan kesatuan secara universal dalam berbagai segi kehidupan yang multikultural.
Namun kondisi kekinian pendidikan di Bima masih jauh dengan konsep dan theory seperti yang disebutkan di atas, kondisi pendidikan di Bima masih berputar sekitar permasalahan kualitas pengajar yang tidak memadai, di samping tenaga pengajar, permasalah perkembangan pendidikan di Bima bila dilihat dari dukungan pemerintah daerah memang  masih kurang cukup, terutama fasilitas: sarana dan pra sarana, buku-buku, media pendukung dll.
Pendidikan nasional pada era modernisasi ini sudah mulai menemukan embrio permasalahan serta alternative solusi yang di anggap mampu memberikan masukan serta solusi sebagai  perbaikan  kemajuan pendidikan di Bima khususnya Pemda. Dalam diskusi ilmiah yang di lakukan oleh Pusat Studi Mahasiswa Pasca Sarjana Mbojo- Yogyakarta yang diselenggarakan di Asrama Mahasiswa Bima “ Sultan Abdul Kahir” menawarkan solusi konkrit alternatif.
1.      Memadukan pendidikan ala pesantren dengan modernisasi pendidikan nasional.
2.      Tokoh-tokoh intelektual Bima yang berada di kota-kota besar lainnya harus  memberikan subangsih pendidikan di Bima, baik berupa konsep,theory atau berupa karya.
3.      Dalam memajukan modernisasi pendidikan di Bima, Pemda Bima harus memberikan dukungan sarana dan prasarana yang memadai.
4.      Pemerintah Bima harus mengevaluasi akreditasi dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan
5.      Pendikan yang berbasis kearifan lokal yang bermuara pada nilai-nilai moral religius harus diterapkan melalui sistem yang aplikatif.
6.      Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan, ilmu pengetahuan, skiill , pengalaman, sikap teladan, dan nilai berdasarkan standar nasional yang merata secara menyeluruh.
7.      Memberdayakan peran serta masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi pendidikan dalam konteks NKRI secara changes and balances
8.      Bagi para guru harus menguasai metode dan theory pendidikan yang inovatif serta bagi mahasiswa harus aktif terlibat sebagai agen perubahan pendidikan buat masyarakat.
Pusmaja Mbojo-Yogyakarta konsisten dalam memberikan dukungan penuh kepada pemerintah daerah kabupaten Bima dalam mengembangkan kualitas pendidikan yang bertaraf nasional bahkan bisa bersaing secara internasional, bentuk dukungan tersebut merupakan hal yang konkrit yang bisa dilakukan oleh PUSMAJA baik melalui diskusi ilmiah pendikan yang otonom,  bentuk karya atau usulan yang solutif demi kemandirian serta perkembangan pendidikan berkualitas di Bima.